Cinta monyet di sekolah
Di SMA Nusantara, ada dua siswa yang sering duduk bersebelahan di kelas XI IPA 2: Raka dan Naya. Mereka tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi dekat. Semua berawal dari hal sederhana—berbagi penghapus saat ulangan matematika.
Raka dikenal pendiam dan lebih suka duduk di pojok sambil membaca buku. Naya sebaliknya, ceria dan mudah berteman dengan siapa saja. Awalnya, Raka merasa canggung setiap kali Naya mengajaknya berbicara. Namun lama-kelamaan, ia mulai menunggu momen-momen kecil itu: saat Naya menanyakan PR, tertawa pelan karena lelucon yang tidak terlalu lucu, atau mengeluh tentang tugas yang menumpuk.
Setiap pagi, mereka berangkat lebih awal untuk belajar bersama di perpustakaan. Tidak ada janji, tidak ada kata “cinta”, tapi ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Raka menyadari perasaannya ketika Naya tidak masuk sekolah selama dua hari karena sakit. Bangku di sebelahnya terasa lebih sunyi dari biasanya.
Saat Naya kembali, Raka memberanikan diri memberi catatan pelajaran yang ia tulis rapi.
“Aku takut kamu ketinggalan,” katanya singkat.
Naya tersenyum, dan untuk pertama kalinya, senyum itu terasa berbeda.
Mereka tidak langsung menjadi sepasang kekasih. Cinta di sekolah itu sederhana—tentang saling mendukung, belajar bersama, dan tumbuh perlahan. Bagi Raka dan Naya, perasaan itu bukan tentang status, tapi tentang hadir satu sama lain di masa yang penuh cerita.
Dan di lorong-lorong sekolah, di antara bel dan tawa teman-teman, kisah cinta kecil mereka pun terus berjalan.
Comments
Post a Comment